SELENDANG MAUT
Arjuna terbangun dari peraduannya. Nafas terengah-engah, keringat dingin membasahi punggung, jantung berdegup kencang. Matanya nanar, tak mampu menatap jelas. Punggung tangan kanannya menyapu peluh di dahi. “Sebuah mimpi buruk”, ia berdiam dalam hati. Subadra masih tertidur nyenyak di sampingnya, menghadap ke arah berlawanan. Terlihat tubuhnya mengembang saat mengambil nafas. Ia tak terganggu dengan mimpi buruk suaminya. Arjuna duduk di sisi ranjang, bangkit sambil membuka kelambu. Diteguknya air dari dalam kendi, menyegarkan tenggorokan. Perlahan dibukanya pintu yang menghubungkan kamar tidurnya dengan ruangan samping. Di ruangan inilah cucunya, Parikesit, tertidur pulas. “Bocah pemberani,” gumam Arjuna melihat cucunya yang lucu. Diciumnya kening Parikesit, yang sedikit bereaksi dengan menggeliatkan tubuhnya dan membalikkan badan. Bocah berusia tiga tahun ini memilih untuk tinggal bersama kakek dan neneknya, saat ibunya Utari pergi berkunjung ke Kerajaan Wirata selama beberap...