Postingan

Menampilkan postingan dengan label cerita pendek

SELENDANG MAUT

Arjuna terbangun dari peraduannya. Nafas terengah-engah, keringat dingin membasahi punggung, jantung berdegup kencang. Matanya nanar, tak mampu menatap jelas. Punggung tangan kanannya menyapu peluh di dahi. “Sebuah mimpi buruk”, ia berdiam dalam hati. Subadra masih tertidur nyenyak di sampingnya, menghadap ke arah berlawanan. Terlihat tubuhnya mengembang saat mengambil nafas. Ia tak terganggu dengan mimpi buruk suaminya. Arjuna duduk di sisi ranjang, bangkit sambil membuka kelambu. Diteguknya air dari dalam kendi, menyegarkan tenggorokan. Perlahan dibukanya pintu yang menghubungkan kamar tidurnya dengan ruangan samping. Di ruangan inilah cucunya, Parikesit, tertidur pulas. “Bocah pemberani,” gumam Arjuna melihat cucunya yang lucu. Diciumnya kening Parikesit, yang sedikit bereaksi dengan menggeliatkan tubuhnya dan membalikkan badan. Bocah berusia tiga tahun ini memilih untuk tinggal bersama kakek dan neneknya, saat ibunya Utari pergi berkunjung ke Kerajaan Wirata selama beberap...

USAI BAHARATAYUDHA

Suasana medan Kurusetra kini sepi. Panji-panji Kurawa dan Pandawa berserakan. Pedang, perisai, kereta kuda, gada, patahan anak panah, keris, dan lainnya yang sudah hancur menjadi pemandangan menyilaukan. Bercampur dengan tumpahan darah yang mulai mengering. Pepohonan serta bukit porak poranda akibat adu kesaktian para ksatria. Tampak para prajurit sedang mencari jenazah dan mengumpulkannya untuk dikuburkan. Tenda-tenda perawatan masih menyisakan rintihan para prajurit yang terluka. Terdengar jelas tangisan para perempuan, janda dan anak yang kehilangan ayah dan saudara mereka. Awan mendung kelabu di sore hari. Beberapa jam lagi matahari terbenam. Di kejauhan, di atas sebuah bukit, tampak seorang laki-laki duduk termenung di bawah pohon. Pakaiannya indah namun lusuh. Tubuhnya gagah namun tanpa gairah. Wajahnya tampang namun mendung di sinar matanya. Dipandanginya sisa-sisa perang Bharatayudha. Ia adalah Arjuna. Teringat jelas dalam ingatan ketika Arjuna menyaksikan satu per...

DUA KOTA, KERETA API, DAN SECARIK KERTAS

Diadaptasi dari kisah nyata “Kursi ini kosong?” Aku terhenyak menoleh kepada sang pemilik suara. Seorang gadis cantik berdiri di koridor gerbong, di samping bangku aku duduk. Aku tidak tahu apakah tempat di sampingku ini ada penumpangnya atau tidak. Yang pasti aku seorang diri, dan nomor kursiku di sisi jendela. Biasanya memang aku meminta nomor kursi di samping jendela. Bukan karena ingin menikmati pemandangan. Hanya saja aku tidak suka jika bahuku harus bersenggolan dengan semua orang yang lalu lalang di koridor kereta api. “Ya, kursi ini kosong,” begitu jawabku singkat, sambil melepaskan earphone iphone-ku. Kuputuskan saja kursi ini kosong, karena kereta api sudah melewati stasiun Jatinegara. Semua penumpang sudah duduk manis di kursinya masing-masing. Kecuali gadis ini. Ia tak banyak berkata setelah mendengar jawabanku. Ia segera duduk, sambil memangku tas kecilnya. Bukan ransel, hanya tas selempang berukuran sedang. Kupandangi kursi di seberang, yang juga sebenarnya kosong satu ku...

KM 80

Adapted from true story Lelah dan penat seluruh badanku malam ini. Berbagai urusan seputar komik di Jakarta memang melelahkan, sekaligus menyenangkan. Hari ini tuntas sudah beberapa pertemuan penting. Mulai dari kerja sama dengan penerbit, beberapa komunitas, hingga silaturahmi. Ya benar lelah dan penat, tapi aku sangat bahagia. Dunia komik selalu membuatku bahagia. Tidak sekedar penyaluran hobi, tapi juga sebagai penyaluran aspirasiku. Alhamdulillah sebagian di antaranya menghasilkan uang. Meski ada beberapa jasa taksi bereputasi baik, aku biasanya menggunakan jasa taksi Z untuk rute Jakarta-Bandung. Tidak hanya mobilnya terawat dengan baik, namun juga pada perilaku supirnya dan manajemen Z yang profesional. Mereka selalu memberi perhatian lebih pada pelanggan setianya. Termasuk aku, seorang gadis yang, mungkin di mata mereka, salah satu pelanggan setianya. Heheh…. Yah begitulah diriku. Taksi sudah siap berangkat, dan aku sudah duduk manis di dalamnya. Sengaja ...

SENYUM TERAKHIR DI BAITULLAH

“Ya Allah, Aku bersujud menghadap-Mu, bersyukur atas semua karunia yang telah Kau berikan padaku dan keluargaku. Tidak ada sedikitpun dari apa yang telah Kau berikan yang membuatku menderita. Semuanya itu selalu mengingatkanku atas apa yang menjadi kehendak-Mu, serta apa yang menurut-Mu terbaik untuk kami semua..... Sekali lagi aku berterima kasih pada-Mu, yaa Allah, penguasa langit dan bumi, atas kesempatan yang telah Kau berikan kepada kami, hingga dalam waktu dekat aku dan istriku akan mengunjungi rumah-Mu di Baitullah.... Bimbinglah kami selalu, yaa Allah, agar kami dapat meninggalkan semua yang buruk disini, dan kelak kembali dari Baitullah membawa yang baik... Hanya dengan bimbingan-Mu kami berharap kelak menjadi manusia yang lebih baik....” Pria itu bersujud dengan air mata berlinang, tanpa seorang pun memperhatikannya. Sebuah masjid tua bersahaja menjadi saksi bisu kekhusukan dirinya di hadapan Sang Pencipta-nya. Tidak banyak umat yang sedang itikaf di masjid mungil di pinggir ...