Postingan

Menampilkan postingan dengan label artikel musik

MENGEJAR THE ROLLING STONES

Dipublikasikan di Koran Tempo, Minggu 30 Maret 2014. “Perjalanan menuju konser The Rolling Stones di Makau penuh kejutan. Keasyikan menonton konser ada juga dalam perjalanan ke sana.” Gerimis turun saat pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandar Udara Internasional Makau, China. Angin berembus 26 kilometer per jam, udara tercatat di angka 16 O C pada termometer, jam sudah menunjukkan pukul 15:00 dan 8-3-2014 terpampang pada tanggalan. Entah berapa detak per menit yang dicatat oleh jantung kami saat itu. Ini adalah perjalanan mendebarkan, karena keesokan harinya kami akan menonton The Rolling Stones, band legendaris asal Inggris.  Antusiasme sudah terbangun sejak awal Desember lalu, saat teman saya, Nelwin Aldriansyah, mengabarkan keberhasilannya mendapatkan empat lembar tiket. Tanpa ragu, saya menyatakan minat. Kapan lagi bisa menyaksikan mereka itu di atas panggung? Usia mereka sudah di atas 70 tahun! Para legenda rock ‘n roll itu akan tampil di Cotai Arena, Ve...

THE BEATLES: MONO BOXSET (2009)

Setelah mendapatkan boxset stereo Beatles di bulan September 2009, akhirnya boxset mono saya peroleh di Jakarta, Indonesia awal Januari 2010. Berbeda dengan boxset stereo yang diimpor langsung dengan harga lumayan dan jumlah terbatas, boxset mono diimpor oleh distributor resmi dengan harga terjangkau. Sebagai perbandingan, selisih harga boxset mono impor langsung dengan impor distributor adalah sejumlah nyaris Rp 700.000,-! Banyak orang tidak mengetahui sepenuhnya perbedaan antara kedua boxset ini. Secara singkat saya terangkan saja: 1. Boxset stereo, berwarna hitam, berisi seluruh album studio Beatles yang diterbitkan di Inggris (sejak Please Please Me hingga Let It Be), plus album Past Masters Stereo (2cd), dan sebuah DVD berisi kumpulan video dokumenter pendek tentang masing-masing album. Video dokumenter secara terpisah juga tersedia dalam setiap album. 2. Boxset mono, berwarna putih, hanya berisi album Please Please Me hingga Beatles (biasa dikenal dengan The White Album), p...

SATORU SHIONOYA GROUP

Ketika jadwal penampilan Dji Sam Soe Super Premium JakJazz 2007 dirilis, banyak yang asing dengan nama para artisnya. Satoru Shionoya (Jepang) termasuk satu diantaranya. Warna musik dan kiprahnya tak banyak dikenal. Namun penampilan Satoru Shionoya Group pada Jum’at malam, 23 Nov 2007 mengubah keraguan penonton. Band beranggotakan lima musisi ini membuat penonton terus bergoyang, berdecak kagum, dan tak meninggalkan arena hingga mereka tampil lagi untuk sebuah encore. Satoru Shionoya Group hadir berkat The Japan Foundation bersama seluruh personil yang melahirkan album Hands of Guido (2006), dan juga memainkan hampir semua tembang dalam album tsb. Satoru (grand piano), Yoshito Tanaka (gitar, produser), Katsumi Hirashi (bass), Eiji Tanaka (drum) dan Masatoshi Kainuma (perkusi) membuktikan bahwa janji mereka saat konferensi pers tidaklah omong kosong. Kelima musisi mempertontonkan kemahiran bermusik tingkat dunia, dengan ketrampilan tingkat tinggi dan luasnya wawasan musik diluar musik j...

KOOL & THE GANG

dipublikasikan di majalah Sound Up edisi Desember 2007 Lupakanlah artis yang lain, karena malam ini milik Kool & The Gang. Mungkin kalimat ini terasa provokatif, tapi benarlah kenyataannya. Minggu, 25 Nov 2007, pada malam terakhir JakJazz 2007, penampilan Kool & The Gang adalah yang paling dinantikan. Penonton sudah mengantri penuh di semua pintu masuk, dan rasanya antrian tak kunjung habis. Pertunjukan sempat terlambat karena sedang perbaiki sound system. Sebelumnya saat Don Grusin manggung, ada beberapa gangguan. Semoga saja gangguan ini tidak separah penampilan perdana Kool & The Gang di Jakarta tahun 1983. Kool & The Gang langsung mengajak penonton bergoyang dengan Fresh. Formasi band yang sudah jauh berubah sejak masa keemasannya dua dekade lalu, tidak tampak ada penurunan. Robert ‘Kool’ Bell (sax), Khallis Bayyan (dulu bernama Ronald Bell; bass), dan George Brown (keys), didampingi 9 personil lainnya seakan tak ada matinya. Dengan deretan musisi yang atraktif, ras...

DIAN PRAMANA POETRA-Live in Concert

DIAN PRAMANA POETRA-Live in Concert: I Like Monday, Hard Rock Café Jakarta, 9 Agustus 2004 Akhirnya setelah sekian tahun vokalis/ komposer/ musikus legenda Indonesia, DIAN PRAMANA POETRA manggung dihadapan para penggemarnya. Tampil beserta musisi kaliber atas dan sederet bintang tamu, Dian PP mampu menyanyikan belasan lagu dengan aransemen baru yang terasa segar dan bersemangat. Acara dimulai jam 23.00 WIB dan Dian PP langsung menghentak dengan Kubawa Kau Serta. Aransemen jazzy lagu lawas ini benar-benar membuat kerinduan masa awal karir Dian PP terlunasi. Setelah menyapa para penonton, Dian melanjutkan dengan hit pertamanya Melati Di Atas Bukit. Lagi-lagi dengan aransemen baru membuat kita takjub menyaksikan bagaimana seorang Dian tak kunjung kehilangan kreativitas. Penonton tak henti-hentinya bernyanyi bersama dan ini membuat Dian juga terpesona. Maklumlah mereka yang berdiri di hadapan panggung termasuk generasi muda. Generasi yang mungkin malah belum lahir atau balita saat Melati d...

CHRISYE: SEBUAH MEMOAR MUSIKAL

Sabtu, 17 Februari 2007 Sore itu saya beserta keluarga sedang berakhir pekan di sebuah mal dibilangan Jakarta Selatan. Saat itulah sebuah sms datang. Isinya undangan untuk menghadiri peluncuran buku biografi Chrisye: Sebuah Memoar Musikal. Mbak Gretiani, editor Gramedia Pustaka Utama, nyaris lupa memberitahukan kabar penting ini. Setelah berunding singkat dengan istri, berangkatlah kami sekeluarga ke The Occasion, Dharmawangsa Square, Jakarta. Saat itu hari telah pukul 17.00 WIB. Sekitar 2 minggu sebelumnya mbak Gretiani sempat bercerita akan terbitnya buku biografi Chrisye ini. Saat itu saya sudah terbayang2 seorang legenda musik Indonesia bernama Chrismansyah Rahadi, alias Chrisye. Betapa tidak, selain Beatles dan Guruh Soekarno Putra, Chrisye adalah musik pop pertama yang saya kenal. Saat berusia 10 tahun, saya sudah sering menyanyikan lagu Juwita dari album Sabda Alam. Kaset album Percik Pesona dan Pantulan Cita saat itu sering sekali saya dengarkan. Tidaklah malu untuk mengatakan ...

TO PROG OR NOT TO PROG

dipublikasikan pertama kali di majalah Sound Up!, ..... Seringkali kita berpikir bahwa setiap artis/ band progressive rock (progrock) sudah pasti selalu menghasilkan karya yang progresif. Jika tidak dalam pengertian progresivitas, setidaknya karyanya dapat digolongkan genre progresif. Tapi kita sama-sama tahu bahwa itu tidaklah selalu benar. Banyak artis progrock yang tidak demikian. Lalu bagaimana dengan kondisi sebaliknya? Apakah artis/band pop tidak pernah menghasilkan karya progresif (baik progresivitas ataupun sebagai genre musik)? Apakah Madonna, Christina Aquilera atau Coldplay tidak pernah membuat musik progresif? Jawabannya bisa ya dan tidak. Tentu saja ini bisa memancing kontroversi. Tapi marilah kita coba melihatnya (atau mendengar) secara lebih seksama. Apa sih sebenarnya syarat suatu musik dapat dikategorikan progresif? Jika dicari ke kamus manapun, mustahil jawabannya ditemukan. Anda bisa menanyakan kepada setiap individu, baik pengamat, pecinta ataupun pemusik. Jawabanny...

YES: KIPRAH NONMUSIK MEREKA

Dipublikasikan pertama kali di harian Kompas, 2 Agustus 2003 “Hearing….hearing your wonderous stories……hearing your wonderous stories….” Begitu lincahnya jemari Rick Wakeman memainkan piano mengiringi koor amatiran sekumpulan penggemar di sebuah lobi hotel di Jakarta awal tahun 2002 lalu. Para penggemar tampak begitu antusias untuk ikut bernyanyi pada kesempatan yang mungkin hanya sekali seumur hidup itu. Bayangkan, bernyanyi diiringi permainan piano sang maestro kibor grup rock progresif asal Inggris, Yes, itu. Itulah sekelumit gambaran betapa dekatnya hubungan personil Yes dengan para penggemarnya, sehari setelah berakhirnya konser Rick Wakeman di Jakarta. Tanggal 23 September mendatang, Wakeman akan kembali lagi ke Jakarta. Kali ini dia tidak datang sendiri, tetapi membawa serta rekan-rekannya yang tergabung dalam Yes untuk manggung di Jakarta. Menyaksikan konser Yes merupakan cita-cita yang sudah lama diimpikan para penggemarnya di Indonesia. Sudah 35 tahun Yes menjadi legenda hidu...

THE BEATLES: STEREO BOXSET (2009)

Gambar
Setelah 10 hari di tangan, saya memberanikan diri memberi komentar atas boxset berisi seluruh album The Beatles yang di-remaster dan disediakan dalam dua buah kotak berbeda dengan desain yang sangat menggiurkan hati. Dua box yang dimaksud adalah Box Stereo (BS) dan Box Mono (BM). BS berisi semua 13 album studio, 1 album kompilasi Past Masters, dan 1 DVD Video dokumenter. BS berisi album2 yang dulunya dirilis dalam format stereo. Semua 13 album studio stereo dan Past Masters dijual secara terpisah tanpa box. Hanya DVD Video Dokumenter yang tidak dijual terpisah. Namun 13 video dokumenter nya terdapat dimasing-masing 13 album stereo dalam format Quick Time. Menurut EMI Records, penerbit album2 The Beatles, BS dicetak secara massal. Setiap 13 album stereo dan Past Masters dilengkapi dengan sebuah booklet berisi foto-foto, catatan produser George Martin, catatan proses remastering, dan catatan asli dari albumnya saat dirilis pertama kali dalam piringan hitam. BM berisi 10 album studio, dan...

INDONESIA HEBAT, NEGERIKU CINTAKU: SEBUAH KONSER KEPRIHATINAN, PERNYATAAN SIKAP & APRESIASI MUSIK

Gambar
Teater Salihara Jakarta, 31 Oktober 2009, menjadi tuan rumah sebuah pentas musik dua generasi: Kadri Jimmo The Prinzes of Rhythm, serta Keenan Nasution, Fariz RM, Debby Nasution, dan Eet Sjahranie. Tampil selama 2,5 jam para pendekar musik menampilkan buah pikiran dan sikap, serta membaginya dengan para keluarga dan sahabat yang hadir. Krisna Prameswara juga partisipasi untuk menyelaraskan musik dua generasi ini. Peristiwa yang melanda Indonesia akhir-akhir ini memang pantas menuai keprihatinan. Bencana alam, perang melawan korupsi, keadilan yang entah berpihak dimana, hingga kesemrawutan negeri. Padahal baru saja Ibu Pertiwi ini merestui hadirnya deretan para pemimpin terbaru, dan sudah harus diuji komitmennya. Masyarakat mengambil aneka sikap berbeda, dan salah satunya tampil pada malam terakhir bulan Oktober 2009 ini. KJP rencananya akan berkolaborasi dengan beberapa legenda musik Indonesia. Masyarakat hari ini mungkin lupa, bahwa para tokoh musik inilah yang berperan penting dalam ...

150 LAGU INDONESIA TERBAIK VERSI MAJALAH ROLLING STONE INDONESIA: SEBUAH RENUNGAN

Gambar
Setelah di akhir tahun 2007 mengeluarkan daftar 150 Album Musik Indonesia Terbaik, kini dua tahun kemudian majalah Rolling Stone Indonesia mengeluarkan daftar 150 Lagu Indonesia Terbaik. Para kontributor dan panelis dipilih dari berbagai kalangan, terutama yang memiliki integritas tinggi akan apresiasi musik. Rentang waktu yang dipilih diambil sejak awal masa Republik Indonesia hingga karya yang terbit hari-hari ini. Ada banyak kejutan dalam daftar dan tentu saja ada pro-kontra, setuju-tidak setuju. Tentu saja semua pihak punya alasan tersendiri akan pilihannya. Adalah tugas para editor (atau entah apa namanya) yang harus mampu mengungkapkan argumen atau alasan yang obyektif akan terpilihnya suatu lagu. Tujuannya agar semua pihak yang berkepentingan dapat menanggalkan pendapat subyektif, dan melihat secara obyektif. Menurut saya ada beberapa aspek yang harus dilihat saat kita memilih lagu-lagu terbaik. Diantaranya melodi yang nempel di ingatan (mudah disenandungkan, ucap seorang teman)...