Postingan

TANPA MEREKA HARI INI KITA TIADA

Gambar
Seringkali saya mendapati generasi muda lupa akan jasa para pahlawan yang telah mengorbankan nyawa, harta & semua miliknya demi mendirikan negara ini. Entah apa yang ada dalam benak mereka & entah apa yang tak berhasil masuk ke dalam benak mereka. Kepada anak2 saya, kerap mereka saya ajak untuk kilas balik, menceritakan kisah2 perjuangan, termasuk suka-duka yg dialami kakek-neneknya di masa itu.     Terkadang mereka saya ajak ke museum (yang rasanya sejak saya seumur mereka segitu2 aja), melihat pameran foto, menonton film dokumenter, menonton film fiksi atau biografi, bahkan mengunjungi tempat2 bersejarah. Namun ada kisah yg kerap saya ceritakan, bilamana mereka memuji kemajuan negara2 tetangga. "Indonesia dijajah bangsa asing kira2 sejak abad 17. Sejak itu pula bangsa kita, dipimpin oleh para raja & bangsawan, berperang mengusirnya. Selama 300 tahun lebih kita selalu gagal, karena penjajah mampu memecah belah kita. Selama 300 tahun itu kalian kira...

SUMPAH PEMUDA 2015

Satu nusa. Satu bangsa. Satu bahasa. Generasi hari ini banyak yang lupa, bahwa selama ratusan tahun tanah negeri ini senantiasa bertikai, bersaing, saling curiga & saling berperang. Hari-hari itu adalah hari-hari di mana negeri ini terdiri dari banyak kerajaan dan tidak punya pemikiran akan sebuah bangsa yang besar. Adalah sebuah negara kecil di belahan bumi sana yang melihat kelemahan kita dan mengambil peluang untuk menguasai negeri ini. Kita dipecah-belah. Benih saling bertikai dan curiga dipupuk. Jadilah negeri kita dijajah ratusan tahun oleh sebuah perusahaan dagang. Ingat: bukan Belanda yang menjajah kita. Melainkan sebuah perusahaan dagang bernama V.O.C. Butuh jutaan nyawa, berkilo emas permata, dan berkilo rempah, hingga sebuah generasi muda sadar: Jika ingin menjadi bangsa yang berdaulat, kita harus bersatu dan menyingkirkan seluruh perbedaan. Apapun itu. Suku, bahasa, agama, ideologi, status. Itulah semangat yang mendasari Kongres Pemuda dan lahirnya sebuah ...

Pak Raden Sang Perintis Cosplay di Indonesia (1932-2015)

Gambar
Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun... Telah meninggal seorang seniman terbesar Indonesia yang pernah ada. Pak Suyadi, alias Pak Raden, wafat pada hari Jum'at 30 Oktober 2015 pk 22:20 WIB di RS Pelni Jakarta setelah sakit lama. Alm Pak Raden adalah seorang pendongeng, ilustrator, komikus & mungkin perintis cosplay di Indonesia. Jauh sebelum kita mengenal apa itu cosplay. Mereka generasi 70an, 80an & 90an tidak mungkin asing dgn nama Pak Raden & boneka2 karyanya, terutama Si Unyil. Hingga akhir hayatnya alm Pak Raden terus berkarya, meski kesehatannya tidak prima. Ia juga terus berjuang mendapatkan penghargaan yang pantas atas karya2nya, terutama HAKI karakter Si Unyil. Alhamdulillah saya bertemu dan bercakap2 dgn alm Pak Raden dalam beberapa kesempatan. Salah satunya ketika beliau memamerkan karya2nya di Bentara Budaya Jakarta, 29 April 2013. Ketika itu putri saya berfoto bersama Sang Legenda. Selamat jalan Pak Raden. Terima kasih telah menghiasi hidup kam...

CATATAN MENUJU FRANKFURT BOOK FAIR 2015

CATATAN MENUJU FRANKFURT BOOK FAIR 2015 (BAGIAN 1)   Saat tulisan ini dibuat, perhelatan akbar dunia buku (literatur, sastra, dan teman-temannya) sedang berlangsung di kota Frankfurt, Jerman, tanggal 14-18 Oktober 2015. Frankfurt Book Fair (FBF), yang sudah berlangsung selama 500 tahun dan terbesar di dunia, kali ini mengundang Indonesia sebagai Guest of Honour. Setiap tahun FBF mengundang sebuah negara untuk menampilkan kekayaan dan kemajuan literaturnya. Fokus FBF sendiri adalah tempat para pemangku kepentingan bertemu, berinteraksi, dan menjajaki peluang bisnis. Salah satu peluang bisnis yang dijajaki adalah jual-beli publishing rights berbagai buku. Dengan demikian setiap tahun FBF memiliki setidaknya dua agenda besar: ajang pertemuan dan peluang bisnis, serta ajang presentasi kekayaan literatur sebuah negara tamu.   Dalam sebuah periode waktu, saya sempat berpartisipasi aktif dalam persiapan FBF di Indonesia. Secara aktif saya terlibat dalam sektor komik. Se...

PK: SALAH NOMOR TELEPON KE LANGIT KE-TUJUH

Gambar
Film India berjudul PK (baca: pi-key, yang berarti konyol) sedang menjadi pembicaraan. Tidak hanya karena menjadi film India terlaris sepanjang masa di dalam negeri. Namun juga karena tema sentral cerita. Film produksi tahun 2014 yang dibintangi Aamir Khan and Anushka Sharma ini mengangkat tema sosial yang sangat sensitif. Meski dikemas dalam drama komedi-satir, tetap saja dapat membuat penonton merenung dan berpikir. Sebagian bahkan terbakar emosi dan mengajukan tuntutan ke pengadilan di India. Ada apa dengan film PK? Alkisah ‘seorang’ alien (belum tentu ‘orang’ tentunya) tiba di bumi dari planetnya di galaksi seberang sana. Alien yang diperankan oleh Aamir Khan memiliki sebuah kalung yang berfungsi sebagai remote control, pemanggil pesawat antariksanya. Di Bumi, kalung tsb dicuri seorang manusia dan jadilah PK terdampar di Bumi. Tak bisa pulang. Mencari kalungnya, ia terus berkelana hingga ke kota New Delhi. Bertemu ribuan orang membuatnya semakin bingung. Ia tak paha...

PELUANG DAN TANTANGAN KOMIK MENUJU MASYARAKAT EKONOMI ASEAN 2015

BAGIAN 1 Dalam PopCon Asia 2014, sebuah ajang kreasi seputar komik, animasi, games , dan banyak lagi, saya diundang untuk menghadiri sebuah talk show . Ngga main-main, judulnya adalah ‘ Preparing Publishing Industries to Face AFTA .’ Pembicaranya adalah Hikmat Darmawan (Indonesia-penulis, jurnalis, kurator, editor, banyak deh), Lim Cheng Tju (Singapore-profesi seperti Hikmat), dan Peter van Dongen (Belanda-komikus Rampokan Jawa dan Selebes ). Lalu saya hadir sebagai apa? Ternyata sebagai tugas yang paling berat, yaitu moderator. Cukup lega karena ketiga narasumber sudah saya kenal bertahun-tahun, dan kami mudah berkomunikasi untuk persiapan. Singkat kata saya membaca banyak berita dan referensi jurnal ilmiah seputar Masyarakat Ekonomi ASEAN mulai akhir tahun 2015. Perihal AFTA (ASEAN Free Trade Area) saya sudah mengetahuinya sejak akhir dekade ’90-an. Akhir-akhir ini juga sering mendengar wawancara radio Prof. Hora Tjitra di Radio Brava 103.8 FM Jakarta. Beliau adalah pakar...

MENGEJAR THE ROLLING STONES

Dipublikasikan di Koran Tempo, Minggu 30 Maret 2014. “Perjalanan menuju konser The Rolling Stones di Makau penuh kejutan. Keasyikan menonton konser ada juga dalam perjalanan ke sana.” Gerimis turun saat pesawat yang kami tumpangi mendarat di Bandar Udara Internasional Makau, China. Angin berembus 26 kilometer per jam, udara tercatat di angka 16 O C pada termometer, jam sudah menunjukkan pukul 15:00 dan 8-3-2014 terpampang pada tanggalan. Entah berapa detak per menit yang dicatat oleh jantung kami saat itu. Ini adalah perjalanan mendebarkan, karena keesokan harinya kami akan menonton The Rolling Stones, band legendaris asal Inggris.  Antusiasme sudah terbangun sejak awal Desember lalu, saat teman saya, Nelwin Aldriansyah, mengabarkan keberhasilannya mendapatkan empat lembar tiket. Tanpa ragu, saya menyatakan minat. Kapan lagi bisa menyaksikan mereka itu di atas panggung? Usia mereka sudah di atas 70 tahun! Para legenda rock ‘n roll itu akan tampil di Cotai Arena, Ve...